Translate

Minggu, 20 Januari 2019

PESONA TAMAN LAUT TANJUNG WAKA SANANA MALUKU UTARA


Tuturuga yang terluka

      
              Keistimewaan Tanjung Waka Sanana adalah belum ramai dikunjung turis lokal maupun manca negara, sehingga banyak sekali tempat-tempat yang masih asli dan asri, baik di darat maupun taman lautnya. Pantai dan hutan yang belum tersentuh oleh tangan-tangan kreatif manusia menjadi daya jual prawisata Sanana. Seperti layaknya Negri-negri di Indonesia Timur yang eksotis,kepulauan Sulabesi inipun tak diragukan lagi  akan pantai berpasir putih dan taman laut yang memukau masih amat perawan layak untuk diselami dan dinikamti keindahannya.
                Dari 9 titik penyelaman sepanjang garis pantai Tanjung Waka, dengan kontur dasar laut 99% wall semua indah, semua kaya akan biota laut, tutupan terumbu karang mencapai 98%,  baik soft coral maupun Hard coral. Penyu alias Tuturuga adalah makhluk unyu nan pemalu yang sering dijumpai selama penyelaman di Tanjung Waka. Ntah karena jarang ada yang menyelam maupun snorkling ikan-ikan dan penyu menjadi sangat sensitif akan hadirnya para divers. Bagi pencinta photography Wide Angel underwater Tanjung Waka adalah titisan surga, berhiaskan aneka warna-warni terumbu karang yang sehat dan beraneka jenis berhiaskan si imut anthias yang gemerlap membuat hasil jepretan photo wide  kece badai. (Note untuk hasil photo ini pastinya yang punya perlengkapan tempur super lengkap).
                Sembilan titik penyelaman yang kami selami yakni : Baleha, Waisepa, Umalek, Fatmok, Kotoyon, Wailia, Obakakon (nite dive), Dermaga/nonagames dan Housereef.  Penyelaman terdalam 30 meter dengan rata-rata waktu penyelaman selama 60 menit, temperatur air  berkisar 27-28oC.. Visibilty yang mencapai 20-30 meter tanpa partikel-partikel membuat Taman Laut Tanjung Waka Kepulaaun Sula begitu Cemerlang.  Bagi yang suka photo macro janagn kwatir, banyak makhluk-makhluk aneh nan unyu bermukim di sepanjang wall yang membentang asalkan mata jeli dan sensitif dimana mereka berada. Atau bawalah Guide Dive yang bermata setajam elang dan memiliki sabar tak bertepi. Terkadang dapat teman atau guide yang rajin menunjukan objek yang ciamik, namun setelah itu kabur ntah kemana,,tinggal lah kita termehek-mehek mencari objek yang ditunjukan tadi. Hehehe dia pikir di darat dan di dalam laut sama, padahal beda jauh Gan. Di dalam laut semua kece, semua cantik, full color, terkadang flat, sehingga susah sekali memfokuskan pandangan pada satu view.

                Dive spot Housereef seperti namya pastinya terletak di muka home stay tempat kita bermalam selama di Tanjung Waka. Merupakan tempat tercantik dari 9 titik penyelaman, sayangnya dive spot ini tidak bisa di selami setiap waktu, harus melihat kondisi arus, dikala arus tenang alias trada maka saat yang tepat untuk menyelami dan menikmati keindahan taman laut yang membuai jiwa. Tidak hanya terumbu karang yang sehat dan aneka jenis dan warna, ikan-ikan lebih ramai di lokasi ini, namun seperti yang dituturkan diatas ikan-ikan di sini super pemalu tak seperti di Raja Ampat dan Komodo, ikan-ikan sepertinya narsis jika diphoto. Kontur dasar laut semi wall, banyak terdapat BO window kecil, yang ciamik sebagai boot photo underwater. Selain House reef yang unik, divespot Wailia juga menyajikan kontur dasar laut dengan Wall yang menakjubkan, sekilas dive spot ini mirip dengan sala satu dive spot di teluk Triton Kaimana. Penyelaman di Wailia merupakan dive ke 9 alias dive yang menurut rencana kedua terakhir, namun sehabis dive di sini badai menerjang, Selama 3 hari 3 malam kami di Tanjung Waka Hujan sama sekali tak menyapa, walau awan tebal sering memayungi kami selama trip dive. Hari terakhir dive pertama, lokasi penyelaman rencananya tepat di ujung tanjung pulau Sula, dimana Desember adalah surganya angin barat untuk bermain-main dengan gelombang. Saat pergi laut hanya beriak-riak kecil, langit pun tampak cerah ceria. Setelah 60 menit menelusuri wall Wailia mencari si makhluk 3G (Ganteng-ganteng Ganas) yakni Hiu, tanpa hasil tentunya, kamipun naik kepermukaan, yang disambut cuaca yang mulai takbersahabat. Diujung cakrawala lagit mulai menghitam menandakan hitungan menit badai akan menyapa daratan kepulauan Sula. Beruntung kami naik di waktu yang pas, sehingga tak perlu bersusah payah beratarung dengan ombak dan angin yang mulai menggila. Namun trip dive takan menjadi seru dan berwarna jika tak menghadapi terjangan ombak. Hal ini lah yang menjadi warna selama perjalan pulang ke Homestay. Body kapal yang memang kecil dengan mesin 90 pk bersusah payah menerjang ombak dan angin yang tak lelah mengajak bermain-main di laut lepas. 30 menit berasa 2 jam, tak henti hati berjikir mohin keselamatan sang Maha Penguasa Alam Semesta.
Selalu suka gaya Oma yang perkasa

                Nite dive yang biasa menjadi nitemare bagi karis diving ku, kali ini begitu menyenangkan, ntah karena sebelum ke Sanana aku sempat nite dive di Ternate bareng Kang Adith atau karena peserta fun dive yang banyak membuat aku begitu menikmati malam-malam di bawah air Tanjung Waka. Giliran aku yang sudah rileks akan gelap-gulitanya bawah laut yang bersinarkan lampu-lampu para divers,. 30 menit menjelang akhir penyelaman dikedalaman 10 meter arus tiba-tiba menggila, yang tadinya kami teratur, tenang dan asik mencari makhluh-makhluk unyu penghuni laut yang lagi terlelap, kocar-kacir menacari pegangan pada bebatuan agar tak terbawah arus ke tengah.  Beruntung semua divers yang ikut nite dive tak satupun yang panik dan semua lengkap saat Leaders guide memutuskan untuk segera naik kepermukaan. Anehnya di atas laut dan cuaca adem ayem, damai tentram, tersenyum mengejek ke kami yang baru di kasih arus sudah menciutt seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
                Di dive ke 4 divespot Umalek kami berjumpa belasan penyu, satu diantara tak selincah dan seagresif kawanannya. Aku bahkan sempat bisa mengimbangi doi berenang, potret sana-sini dari segala sisi. Sempat heran juga, kenapa doi yang bertubuh kecil dibanding teman-temannya ini tak selincah yang lain. Pertanyaan ini terjawab setelah malamnya, saat aku mereview hasil jepretan-jepretan yang mengenaskan, sedih jarang ada yang bagus yang membuat lidah berdecak kagum. Ternyata si doi Tuturuga mungil ini, selain memang sudah usia lanjut, doi terluka di bagian sayap kiri, tampak merah segar mewarnai sisi sayapnya, belum lagi warna temperung yang dipenuhi parasit...sepertinya doi sakit parah,,uhukssssss...lara seketika aku melihat photo ku, sesal selalu datang terlambat, tadi aku begitu agresif mengejar-mengejar doi untuk mengambil photo terbaik, pantesan doi tak langsung melesit bak pesawat tempur, ternyata oh ternyata doi mungil ini sedang sakit parah...hiksss..hiksss,,Hanya bisa berdoa semoga doi cepat sembuh dan dikasih yang terbaik.
Pak Triss 

                Selaian taman laut yang mempesona, pantai-pantai berpasir putih membuat diving di Tanjung Waka semakin sempurna. Karena di pepasir putih berhiaskan tebing-tebing karang yang rindang akan pepohanan menjadi tempat ternyaman dan instragrameble di kala survice interval (waktu jeda antara satu dive dengan dive berikutnya).  Khusus bagi ku, pepasir putih bersih dengan sapuhan air laut merupakan kasur terempuk dan terindah berbaring diatasnya sembari menatap langit biru  bertemankan suara terindah deburan ombak, kicau burung serta bisikan angin laut yang mebuai mesra hati yang gulana. Tak hanya pantai-pantai yang bikin hati merindu, namun terdapat juga air terjun super mini yang jatuh lepas tanpa beban ke pantai, segar dan bening airnya,,,arggggh suasana yang takpernah ku temui di kota ku mencari nafkah, beruntunglah masyarakat Sanana yang berhalamankan pantai, laut, dan bukit-bukit yang menghijau yang membentuk satu kesatuan pemadangan kelas dunia.
                Malam terindah jika trip ke Indonesia Timur adalah berburu milky way,paling tidak jika tak berjumpa bisa melihat dan menikmati miliaran bintang di langit kelam Indonesia Timur nan eksotis.  Seperti malam ke 3 di Tanjung Waka, Aku, Amy dan Pak Triss, menanti langit bertaburan bintang sembari rebahan di kursi pantai,,,semakin malam semakin gemerlap, seperti tabir yang tersingkap sempurna, langit walau gelap begitu bersih tanpa awan, tanpa bulan, hanya ada bintang-gemintang yang cemerlang dan sabuk milky way tersenyum tipis, menggoda utuk diabadikan. Anak muda memang juara jika soal Teknologi dan uliki-mengulik. Hanya menggunakan Handphone LG5, Kombinasi Amy dan Pak Triss sukses menjepretaku dengan latar belakang Milky Way yang Keren nan elegan. (Sttttt Milky way nya yang kece badai bukan ako...hehehe).









               

Jumat, 18 Januari 2019

CATATAN KECIL FESTIVAL TANJUNG WAKA SANANA MALUKU UTARA


Festival Tanjung Waka Sanana Desember 2018 photo cridit by GENPIKepulauan Sula


                Tak banyak yang mengenal Tanjung Waka, maklum ini adalah daerah pemekaran baru yang terletak di desa Fatkayon, Kecamatan Sulabesi Timur, pulau Sulabesi Kepulauan Sula Maluku Utara. Sebuah pulau terletak paling selatan diantara gugusan pulau Maluku Utara, tepatnya di laut Banda. Secara Geografis pulau Sulabesi ini lebih dekat ke Luwuk Sulawesi Tengah. Pintu gerbang untuk menjangkau surga nan eksotis ini bisa melalui Kapal laut atau pesawat melalui Ternate atau Ambon. Pesawat yang melayani rute Ternate-Sanana-Ternate atau Ambon-Sanan-Ambon tidaklah banyak hanya Trigana air dengan pesawat fokernya dengan kapsitas begasi perorang 10 kg dan Susi air dengan pesawat super mininya (walaupun mini susi air ini begitu istimewa, dikarenakan pilot dan copilot yang mengendari pesawat ini super bening, sebening cristal water, menenangkan jiwa yang gemetar bagi yang paranoid akan ketinggian). Jadwal pesawat dan kapal pun tidak setiap hari ada, jadi jika sahabat bolang mau menjelajah Sanana harus rajin-rajin dan cermati jadwal Kapal atau pesawat yang menuju ke Sanana.
                Sanana adalah sebuah pulau yang subur penghasil kenari, kacang mete, kopi, pala, kopra dan hasil bumi lainya. Hal ini terlihat jelas dengan pegunungan yang menghijau, bukit-bukitnya rapat tertutup pohon kelapa yang berbaris bak tentara lagi upacara agutusan. Seperti yang dituturkan om Roy Udin, mayoritas mata pencariannya masyarakat Sanana adalah berkebun, bukan nelayan walaupun  pulau Sulabesi dipagari dengan laut yang menggoda iman. Pantas saja biota lautnya seperti terumbu karang masih sangat sehat serta ikan-ikan dan penyu pun masih super pemalu jika berjumpa para divers. Konon katanya masyarakat Sanana bukan pengkomsumsi ikan atau hasil laut lainya, dapat dimaklumi sich sepanjang perjalanan dari kota Sanana menuju Tanjung Waka, banyak ditemui sapi-sapi yang gemuk, sehat dan bersih siap untuk di komsumsi.
Lomba Dayung Festifal Tanjung Waka Photo Cridit Genpi Kepulaaun  Sula

                Setelah terbang 1 jam 40 menit membelah langit Maluku Utara, tentunya bersama kapten super cakep Susi air, kami (Pak Triss, B Susi, Oma Dwie,Amy dan aku) bernapas lega di teriknya matahari Sanana yang aduhai membakar kulit. Sanana kota yang sederhana khas kepulauan. Paling berkesan dari kota ini adalah saat harus mengantri ATM. Hanya ada dua ATM BRI dan Bank Maluku (yang ini rusak), walhasil kami pun turut mengantri di tengah siang bolong bersama warga Sanana. Terlucu adalah semua warga bisa ikut masuk ke bilik ATM yang super imut dan semua warga yang ada di dalam dapat tahu berapa saldo akhir tabungan kita...huaksss alamak satu kota satu pulau jika kita mengambil uang di ATM maka orang-orang yang di belakang kita akan bergosip ria akan kekayaan kita,,,uhukkk ketahuan dech miskinya...hehehe. Desa-desa di kepulauan sulabesi ini sungguh indah dan damai halaman depan rumah berbaris rapi dengan rumput menghijau dan dipagari bambu yang bercat biru (sepertinya satu pulau kompakan mencat pagar rumah dengan warna biru), sementara halaman belakang adalah laut biru nan luas seluas cakrawala yang membentang. Meski matahari begitu murah hatinya bersinar dengan cemerlang, tak menghalangi tumbuh-tumbuhan tumbuh subur di sepajang perbukitan. Perjalanan 1 jam 30 menit Sanana-Tanjung Waka dengan jalan turun naik, berkelok, kadang mulus kadang bergerigi membuat trip akhir tahun ini semakin berwarna.
                Tanjung waka adalah pantai pasir putih yang memanjang lebih dari 5 km memutari tanjung pulau Sulabesi, benar-benar tepat terletak di ujung pulau Sulabesi. Saat kami datang bertepatan dengan dengan festival budaya Tanjung Waka, sebuah festival dengan tujuan mulia untuk mengangkat pariwisata dan budaya Sanana dimata peloncong baik dalam maupun dari luar negri. Namun sayang disayang promosi yang kurang, tidak adanya kebudayaan yang khas dan unik Sanana, ditambah dana penyelenggaraan yang minim serta transportasi yang susah menuju Sanana, festival yang harusnya bisa bersanding dengan festival Jailolo ini sepi dari turis domestik maupun mancanegara. Patut di Apresiasi Genpi (Generasi Pesona Indonesia) yang di motori putra-putri terbaik Sanana berusaha mempersembahkan karya terbaik untuk negri yang eksotis ini. Asalkan Genpi mau menerima masukan dan terus belajar, insyaAllah Festifal Tanjung Waka satu massa akan menjadi besar dan tersohor.

                Festival Tanjung waka sendiri berlangsung selama 3 hari berturut-turut, diisi dengan acara tari-tarian dari setiap desa di kepulauan Sulabesi, dimana setiap penonton diminta untuk menyawer para penari yang tampil, sungguh penari-penari ini juara, mereka berangkat dari desa-desa nun jauh di pelosok pulau menggunakan ankutan desa berupa pick-up terbuka, tak terbayang betapa keringat membajiri badan, berbalut baju-baju adat, bermake-up ala aktris papan atas, bukan hal yang mudah dengan kondisi alam yang super panas dan menyengat. Namun salut pada masyarakat yang tetap semangat 45 mensukseskan acara Festival ini. Selain tari-tarian ada juga perlombaan dayung, tarik tambang di laut, fun dive dan lomba photo baik di darat maupun di bawah laut dan tak ketinggalan festival kuliner,,,nach yang satu ini yang dinanti, namun aku harus gigit jari melihat stand-stand yang semuanya berisikan makan kering, padahal aku sudah membayangkan akan menikmati makanan khas Sula Maluku Utara.
                Sungguh semamput aku dipaksa duduk manis di bawah tenda biru, dengan udara panas karena sengatan matahari plus dengan kerubunan orang-orang yang menyemut. Akan lebih baik festival ini diadakan sore hari sekitar pukul 3 sore sampai matahari terbenam, dimana waktu menjelang senja adalah waktu romantis bersama keluarga, kekasih dan sahabat dan utamanya matahari tak lagi diatas kepala.Satu lagi PR besar untuk panitia adalah menjaga masyarakat pengunjung untuk tetap membuang sampah pada tempatnya. Miris ketika kantong kresek, minuman kemasan bertebaran di pantai juga laut yang tadinya bersih dan indah ternodai dengan ambisius manusia. Terlepas dari semua kekurangan penyelengaraan festival Tanjung Waka Sanana Maluku Utara, Om Udin beserta timnya telah memberikan pelayanan terbaik bagi kami yang berkunjung ke Sula selama 4 malam 3 hari, trip diving yang memukau (baca artikel : Pesona Tersembunyi Taman Laut Sanana Maluku Utara). Masyrakat  yang ramah dan kebaikan hati Bapak Bupati Sanana "Hendrata Thes" yang memberikan kami penginapan gratis di Istana Daerah Sula, miniaturnya Istana Negara merupakan bonus yang takan terlupa dari Kepulauan Sulabesi yang patut di kunjungi. Dan tak ketinggalan terimaksih untuk gadis manis Sisi yang menginspirasi,  tak gentar dan berjiwa besar walau badai melanda.
               

Bupati Kepulauan Sula  Hendrata Thes
Ini lho Alam tanjung Waka yang super cantik

Suatu pagi di Tanjung Waka

Asli Pilotnya bikin susah move on

Bandara Sederhana dan Hot

Peserta Fun Dive




Sabtu, 12 Januari 2019

TAMAN LAUT JIKOMALAMO TERNATE MALUKU UTARA





Setelah setahun absen untuk trip akhir tahun 2017 jelang 2018, dikarenakan UAS yang menyita pikiran dan mengemukan badan, akhirnya tradisi Trip akhir tahun 2018 jelang  2019 dapat terlaksana. Kali ini tujuannya Ternate-Tanjung Waka Sanana Maluku Utara. Siapa yang ga kenal Ternate yang tersohor sejak jaman sebelum VOC mencekram cakar-cakarny ke  ibu pertiwi. Maluku, Halmahera dan Ambon adalah segitiga emas, bisah dikatakan juga jalur sutra bagi Portugis, Spanyol dan VOC. Sisa-sisa kekuasan penjajah masih tampak jelas di ketiga pulau tersebut. Selain Benten-benteng yang kokoh, mega dan berselimutkan aura mistik, sifat-sifat feodal tertanam sampai sekarang di masyarakat kita. Warisan satu ini sungguh membuat bangsa ini susah untuk menjadi besar, hilang dari jajahan asing, kini tertindas oleh saudara setanah air.
4 tahun silam kali pertama aku menjelajah Ternate dan Jailolo, penantian yang lama untuk kembali lagi ke Negri Gunung Api ini. Tak banyak yeng berubah, Gunung Tidore yang bak Tumpeng masih tetap cantik, menawan dan gagah menjulang dilangit biru kepulauan Maluku Utara, gunung Gamalama pun tak mau kalah dengan kecantikan Tidore yang rupawan. Gamalama gunung api aktif  dengan ketinggian 1750 mdplyang berteker di pulau Ternate begitu besar dan kokoh, walau hati miris melihat pungung-pungung nya sekarang berhiaskan atap-atap rumah yang mulai merambat naik, tidak lagi di kaki gunung. Arrrg Ternate kota tua yang kini mulai bersolek dan memadat. Saudaranya sindiri Tidore kota yang sama dikaki gunung Tidore dengan ketingian 1730 mdpl, merupakan kota cantik, rapi dan bersih. Ternate maupun Tidore sama-sama kota di kaki gunung api yang dikelilingi laut nan indah, satu hal yang membuat aku tak kan berlama-lama dikota ini adalah cuacanya yang super duper panas di siang hari bisa mencapai 34-35oC, asli seperti kepiting rebus rasanya, tips kalau mau ngebolang di kepulauan Maluku utara pergi lah/keluar rumah di atas jam 3.00 sore atau habis subuh sampai pukul 9.00 pagi saja. Keluar diatas jam 9.00 pagi sampai jam 3 sore, seperti matahari memayung kepala tanpa diskon panasnya.

Beruntunglah ini trip divers, jadinya dikala matahari dengan baik hati memanasi negri gunung api ini, kami mengademkan diri sembari menikmati keindahan taman laut Ternate. Keindahan taman laut Ternate salah satunya ada di dive spot Jikomalamo, sebuah teluk kecil yang menghadap pulau Hiri. Jikomalamo Cantik atas bawah, diatas berhiaskan laut dengan air sejernih kristal water, pulau Hiri yang hijau menjulang ke langit biru bersuara deburan ombak dan kicau burung. Sementara itu di kedalaman 7 – 25 meter di bawah permulaan laut hamparan soft coral hampir 95% menutupi dasar laut yang bak mangkok ini. Keanekaragaman coral pun beraneka, mulai coral api, tabel ciral, sponge coral, barel coral, ear coral, dan banyak lagi lianya. Ikan-ikan penghuni dasar laut pun damai dan tentram di birunya teluk Jikomalamo. Teristimewanya disela-sela coral api terdapat ikan cardinal fish bahasa desonya ikan bangai yang endemik dengan selat Lembeh Manado. Namun Cardinal fish disini ukuran tubuhnya lebih besar dengan corak hijau toscha yang lebih dominan. Sayang ikan ini super pemalu,  sehingga sukar diphoto, kita mendekat dia akan masuk kesela-sela coral api,,argggh ini ikan tak mengenal narsis sepertinya....
Selama 2 hari ternate, banyak ilmu yang aku dapat teristimewanya kali ini dive trip ku di dampingi oleh orang hebat, keren dan cerdas, mempuni ilmunya dan terpenting cowok gondrong hitam manis yang terkenal dengan still black fashion dan gaya puffer fish bila di photo ini ga pelit akan ilmu, bak ilmu padi makin berisi makin merunduk, Kang Adith Keleum. Ya,,beliau dengan sabar mengajari aku bagaimana cara moto UW wide dan macro. Tingallah aku yang termehek-mehek menyerap ilmunya. Masalahnya, setiap habis dive akan di review hasil photo ku yang yang seadanya....demi ilmu demi photo indah dipandang mata aku rela malu dan mengakui kebodohan aku dalam mencerna kata-kata. Rasa-rasanya ribuan terimaksih akan kebaikan hati Kang Adith taklah cukup, biarlah Ilmu yang berfanfaat sebagai amal jariah yang tak kan putus sampai akhir jaman yang membalas semua kebaik Kang Adith. Mengenai hasil jepretan ku, hehehe pembaca budiman nilai sendiri ya,,, yang pasti masih banyak yang harus aku pelajari dan terus belajar, belajar, latihan-latihan tak henti..



Kamis, 20 Desember 2018

WOBBEGONG DIVE CENTER & KORANU FYAK BUNGALOWS RAJA AMPAT

Underwater Chiken Reef Raja Ampat



Even though there may be times
It seems I'm far away
The sound of your heart beating
Made it clear
Never wonder where I am
Whenever you reach for me
I'll do all that I can
We're heading for something
Somewhere I've never been
Sometimes I am frightened
'Cause I am always by your side
'Cause I'm your lady
And you are my man
But I'm ready to learn
Of the power of love


            Kembali ke dalam dekapan hangat Wobbegong Koranu Fyaks di pulau Kri lagi, seperti pulang ke tanah kelahiran rasanya, sesuatu yang nyata sekaligus fana, sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan. Semua tentang Kri itu indah, pulau kecil di jantung Raja Ampat. 7 tahun berlalu Kri memang tak sama, seperti Ruben dan homestaynya juga tak lagi kurus bak remaja baru mekar, Ben pun mulai tumbuh dewasa, dari pemuda cengkring berubah menjadi lelaki dewasa selayaknya bos-bos kota besar. Sesuatu yang positif sekaligus negatif. Suka akan perubahan Ben yang memiliki visi dan misi jauh kedepan dibanding pemuda Mansuar lainya. Namun Ben bak gunung es yang sukar ditembus. Satu hal yang tak berubah dari Ben, masih berlagak Bossy, masih acuh namun butuh, masih sama habis manis sepa dibuang...dengan segala kelebihan dan kekurang-ajaran sikap Ben pada ku, ntah magic apa yang membuat aku, tetap setiah, tetap cinta, tetap sayang  sampai detik ini, meski berulang kali dicampkan bak sampah.
            Tanah kelahiran Ben memang indah, baik darat dan isi lautnya. Beruntung Ben memiliki tanah ulayat di pulau Kri, pulau kecil di depan Mansuar. Di pulau inilah keluarga besar Sauyai mendirikan homesatay serta beberapa Dive Center (sampai saat ini baru ada 3 homestay yang memilki Dive Center sama seperti dahulu yakni Yenkoranu, Koronu dan Mangku Gordon). Wobbegong DC atau yang disingkat WDC jauh berkembang pesat selama kurun waktu 5 tahun ini. Dahulu setiap kali mau dive kami selalu mampir ke Mangku Gordon untuk mengisi tabung, menyaksikan otot-otot lengan dan tubuh Ben beserta Mathias bermandikan kerigat memangul tabung antara tega ga tega lihatnya di bawah terik mentari berjalan diantara lamun-lamun pantai, beruntung Kri memiliki pantai yang bersih jarang sekali ada si bulu babi yang mengancam kaki peloncong yang bermain di pantai. Dahulu WDC hanya memilki beberapa alat dive, namun sekarang WDC memilki kantor dan gudang penyimpanan barang yang berdiri kokoh di samping Koranu Fyaks Bungalows. Si punggawa WDC dan KRF masih sama Ruben dan adiknya Mathias, dua-duanya jago menyelam, jago moto. Ben unggul dalam manajemen, Mathias unggul dalam mekanik dan mencari makhluk-makhluk unyu taman laut Raja Ampat baik yang super imut sampai yang berukuran besar. Keduanya saling melengkapi seyognyanya kakak adik yang harmonis.
Underwater Mike'S Point Raja ampat

            Hubungan aku dengan Ben pasang surut, aku berarti bagi dirinya dikalah dia paceklik, aku adalah sisi gelapnya, meski aku saksi hidup bagaimana Ben jatuh bangun merintis KRF dan WDC nya. Aku selalu tersakiti namun ku tak rela lepas dari cakar-cakar Ben yang mengakar dan mengurat di lubuk hati. Aku pun tak pernah paham bagaimana rasa Ben terhadapku, yang ku tahu di kala Ben dahaga dia kan menyesapku dengan rakus cukup satu dua malam saja, setelah itu aku bagai bungkus makanan yang mengawang-awang, menyesali, mengutuk kebodohan diri akan kesalahan yang berulang.
            Secara sadar tak sadar gagal menikmati keindahan Batanta, aku malah menelpon Ben, agar liburan yang berantakan di Batanta bisa berlajut di KRI. Bersama jukungnya Kreskes akupun sampai di WDC, awalnya aku mau stay di Yenkoranu, namun ini homestay sudah berubah kelas, tak bisa menerima tamu dadakan, harus booking jauh hari. Jadilah aku kembali lagi ke KRF secara letak mereka tetangga kiri kanan. Saat tiba KRF tampak senyap, yang ada karyawannya. Saat ditanya adakah kamar tersisa jawabnya bentar, bos nya lagi menyelam, padahal aku dah bilang temannya Ruben, udah call uda ACC. Hmmmm terasing di rumah masah silam ku. 30 menit menanti di bawah pohon dimuka WDC tempat dulu aku becengkrama dengan keluarga Ben, akupun dipersilakan menempati kamar yang pertama aku tiduri 5 tahun silam. Bergegas aku membersihkan diri lalu memasang hammock untuk menanti bell makan siang yang tak lama lagi. Migren mulai menyapa kombinasi lapar dan sengatan matahari memang ampuh mebuat semamput. Aku coba rebahan santai menikmati sakit kepala yang mulai merayap, sayup aku dengar suara mesin melaju menuju WDC dan tak lama suara gelak tawa dan suara-suara dengan bahasa ingris diujung jetty. Tamu-tamu beserta komandanya telah kembali dari trip dive hari ini, disela-sela suara itu satu suara yang bak bulu perindu, yang tak pernah gagal megetarkan seluruh indra ku., Ben. Aku coba mengabaikan suara yang semakin mendekati pondok ku, berpura-pura tidur, sekuat hati membenamkan diri di kenyamanan hammok, namun semua gagal, kepala ku menghianati akal sehat ku, kepala ku muncul di balik hammock ntah setan apa yang merasuki senyum termanis terlukis di wajah kusut masai, “Hai” sapa ku penuh kasih. Tak kalah geroginya Ben dengan ku, doi yang sekarang gempal bak buntelan ini pun, grogi akan hadir ku di istananya. “Kenapa datang sekarang” dengan logat khasnya dia membalas sapa ku, sambil berlalu pergi. ,Jlebbbbbb tak berubah ini orang, masih sama seperti dahulu tak punya hati.
            Tak mau bersedih hati akan sambutan Ben yang super menjengkelkan itu akupun lanjut tidur dihammock berharap  sakit kepala ku segera berlalu. Dikala aku mulai terbuai angin laut, aku dikejutkan sosok tegap dengan aroma sabun mandi yang menyengat dihidung “Mana camera mu?” ini kata-kata kedua setelah 2 tahun tak saling sapa dan jumpa. Mata ku sigap terbuka, menabrak tatapan matanya, tatapan mata kami sama, sama-sama menyimpan api kerinduan, kerinduan kalah pertama kami berjumpa di Kri, kerinduan kalah pertama belajar menyelam bersama, kerinduan akan keintiman yang terlarang. Tak perlu usaha keras untuk merayu ku, karena seluruh ruang hati ini terisi penuh degan Ben,  kami pun larut dalam api asmara yang merona.
Black crocodille UW Cape Kri

            Ben lelaki yang super ego dan dingin, selepas mencumbuku, dia hanya bilang habis ini check dive ya jam 15.30 di jetty Yenbuba, dan berlalu begitu saja, seperti biasa tinggal kan aku dengan rasa dahaga, perih luar dalam. Dua butir pil Neuralgin  pereda migren ampuh mebuat kepala yang mulai berdentang kencang. Diving pertama ku hari ini, diving bersama Ben kembali setelah 7 tahun silam, happy?? Ntalah?? Aku masih kehel dengan sikap angkuhnya setelah apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu, seperti tak pernah ada ikatan batin antara aku dan dia?? . aku mulai curiga, aku yang terlalu menuntut romantisme di muka umum? Atau dia yang super jaim dan tega???? Arghhh dasar cowo ga bisa di tebak!!!. Dengan enggan akupun dive bersama 2 cowok bule gembul  dari Norwegia, dua-duanya masih baru, mau-tak mau aku harus mengikuti kedalaman mereka hanya 18 meter dan 40 menit,,uhuksssss, mana sepanjang dive Ben sibuk Tang-Teng Tong aku agar menaikan ketinggian dan menjauh dari reef...beuhhhhhh. Selesai dive satu aku langsung protes:  “koq hanya 40 menit???? Padahal udara di tabung ku masih 150 bar”. Santai Ben menjawab, “Masih ada hari esok!”. Halaaa iya mereka memang ada hari esok, sementara aku yang itungan hari akan kembali ke alam nyata, jauh dari laut dan harus menabung extra ketat untuk menikmati taman laut. Dive spot Yenbuba paling baik diselami pagi dan pergantian arus. Selain cahaya membantu dalam visibility di dalam air, gemerlapnya tanjung yenbuba yang tertutup ear coral akan tampak lebih sempurna. Ikan-ikan pun akan lebih ramai jika adanya arus yang menggila. Sore menjelang senja ini Yenbuba tampak temaram, ikan-ikan tak sebanyak biasanya.
            Hari kedua besama Ben, hari ini akan menyelam 3x, dive pertama di   Mike’S point sebuah dive spot penuh sejarah, 5 tahun silam aku gagal negatif entry di sini, waktu itu bersama Mathias dan satu Bule. Mathias yang sudah 10 meter di bawah harus naik kembali untuk menarik aku, jujur aku tak bahagia menyelam di dive ini. Mike'S Point terletak pas di depan Homestay KRF berjarak puluhan mil dari Kri. Sebuah pulau kecil rumahnya camar laut. Dahulu begitu full color. Variasi warna coral yang tumbuh rapat pada dinding pulau ini begitu mempesona, mulai orange, violet, hijau tua, hijau muda, merah, kuning sungguh indah, dulu juga kami masih bisa jumpa electrik clam sebuah kima berwarna merah dari mulutnya setiap 3 detik mengeluarkan garis-garis listrik. Dive ke dua chicken reef beuhhhh inikan tempatnya Almahurm Michael meninggal...hikss, dive ke 3 di highligtnya Kri, yakni Cape Kri dive spot yang selalu memukau mau kapan pun menyelamnya, tahun lalu, aku dan  Benny sepupunya Ben menyelam di sini, dikedalaman 18-30 meter rumahnya pigme, makhluk super unyu yang selalu sukses bikin senewen mata.
            Hari ini sedikit gerimis langit masih tertutup awan putih tebal, penyelaman pertama 8 0rang diver satu-satunya indonesia hanya aku, selebihnya German, Norwegia, belanda, Thailand. Kali ini Ben tak sendiri, dia bersama Mathias..suprise rasanya jumpa Mathias kembali 5 tahun tak jumpa Mate, masih mungil, masih hitam manis dengan bulu mata keritingnya. Aku tak tahu apa Ben mau menghindar dari ku, yan pasti aku tak sekelompok dengan doi, kelompok ku para kurcaci yang jam terbangnya baru belasan. Dengan hati dan pikiran yang membayang pengalaman 5 tahun silam, aku pun sukses entri dive di Mike'S point. Seperti hari kemarin, Ben mengingatkan ku untuk menaikan ketinggian.
UW Tanjung Mansuar Barat

            Lain bahasa pastinya lain pula budayanya. Terbiasa dengan dengan grup dive macro dan semuanya orang-orang Indonesia, hal yang biasa diving pasti dekat-dekat Coral, apalagi kalo sudah menemukan objek yang siap di abadikan pastinya lutut akan bertumbuh di pasir, fins ikt turun ke pasir. Atau jika tak menemukan tempat landai bebas dari coral, maka tangan kiri yang beralaskan sarung tangan dengan berat hati akan bertumpuh pada coral mati atau batu jika beruntung. Aku sadari aku selalu menyelam mendekati coral alasan yang pertama memang mata ku sudah rabun jauh,,sulit bisa melihat benda-benda yang imut walau sudah dibantu softlens. Alasan ke dua aku trauma di bawa arus ke tengah jika jauh dari karang. Lagi asik merekam  swicthlips ikan bibir seksi yang bercorak garis-gari kuning diantara lekukan-lekukan dinding pulau tiba-tiba fins ku berasa ada yang menarik. Refleks aku melihat ke belakang, ternyata Bule German yang cool lagi melotot ku, sembari tangannya memberi kode jangan terlalu dekat karang.hmmmmm, aku pun magutt mengikuti maunya Doi pedit senyum ini.
            Mike’S Point memang tak seperti dulu, sungguh sedih terumbu karang yang dulu aneka warna sudah menyusut tinggal 10%nya, bahkan satu sisi terdapat sisi dinding yang gundul, ntah karena pemanasan global atau karena terlalu banyak diver. Terlepas dari rasa kecewaku, aku mendapatkan sisi baru dari Mike’S Point 5 tahun silan aku hanya melihat ¼ dinding pulau darai kedalaman 23 meter, dive kali ini hampir keseluruhan pulau kami kelilingi. Sangat menarik, dari mulai slove yang di tumbuhi sulur-sulur laut bak ular yang meliuk-liuk di dasar laut, didindig wall yang terdapat gua-gua kecil rumah bagi ikan-ikan aneka warna. Adajuga gua kecil bak gapura yang bisa di tembus, wala masuk nya mesti merayap, kali ini bukan Pale German yang menegur ku cewek thailand, mengetuk tabung ku memberi tanda klo octopus ku lepas dari sangkarnya,,owalaaaa ada-ada saja hiksss, dan semua ga luput dari pengawasan mata elang Pale German.
Manta Point Raja ampat
            Dipenghujung dive, setelah keluar dari gua mungil dan insiden kecil aku berjumpa belasan pipe fish lucu dan mengemaskan, lincah teramaat sukar di photo. Tak lama aku menyusul rombongan yang sudah maju kedepan. Selang berapa menit, tiba-tiba muncul makhluk unyu nan baik hati idolanya semua orang, secepat kilat sosok putih gempal bermanuver didepanku..WOW...kali pertama jumpa Dolphin ya lumba-lumba si imut megemaskan berenang riang di habitatnya. Riang pastinya, dengan semangat 45 aku pun mencari posisi untuk mengabdikan moment spesial dan berharap agar dolphin kembali bermanuver di depan kami.  Aku sudah behati-hati untuk tidak di getok Pale dan Bule lagi, dengan hati-hati aku mendarat di tempat yang berpasir, tepat di depannya hamparan fire coral yang tumbuh rapat, babynya ikan bermain riang gembira diatasnya, takut camera ku goyang saat menshoot vidio, dengan dua jari tangan kri tentunya mengunakan glove, aku memegang ujung coral. Tak sampai 1 menit rasanya si Pale langsung melibas tangan ku, dan teriak-teriak marah di bawah air...Fiuhhhhh lagi-lagi aku kena damprat. Aku pikir jika memagang coral dengan ujung jari saja dan menggunakan glove tidak apa-apa, ternyata itu adalah haram, ibaratnya makan daging Babi bagi muslim, semua bagiannya adalah Haram...owlaaaaa. Bisa dibayangkan apa yang terjadi saat dipermukaan. Sepanjang perjalanan kembali ke KRF aku mendapat kuliah gratis dari dosen internasional,,,bla,bla,bla,bla,,,, panjang lebar,,ntahlah doi bilang apa, aku Cuma bisa bilang sory..hehehe yang aku tahu dia marah besar, satu kapal mengutuk ku, selebihnya aku tak pernah tahu mereka bilang apa,,,huaksssss Jumpa Dolphin berujung malu tak berkesudahan.
UW Jetty Sauwandarek Raja Ampat

            Dive ke dua dan seterunya bila Pale German ini ikut dive, aku relakan tak membawa Olympus Tg4 ku, cukup membawa Go-pro yang pada akhirnya juga masuk air di hari ketiga.  Aku selalu berenang menjauh dari reef, berusaha paling belakang dari rombongan, sial,,,si Pale tetap paling belakang..bagaimanapun aku berusaha untuk paling buntut, sepertinya tatapan doi tak lepas dari ku. Aku tahu dia begitu tak menyukai ku, baik di atas maupun di air kami tak pernah berbicara sepatakatapun. Keadan memburuk dengan sikap Ben yang ahli-ahli menghibur, malah ikut menyudutkan,,,uhukkkk perih, terlebih setelah dive ke-3 dengan segala kuasanya kembali aku jatuh di lembah asmaranya penuh nista. Aku tak mengerti kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku rela dengan sikap binatangnya menjajah hati dan raga ku?
            Dive trip bersama WDC kali ini selain berjumpa dolphin, aku juga berjumpa black crocodille di Cape Kri yang memang selalu memukau, si ganteng nan elegan Manta di Manta point. Dua dive spot baru bagi ku adalah Tanjung Mansuar barat disini kami banyak bertemu baby hiu dan pigme. Teristimewanya jumpa Wobbegong yang lagi berenang panik dikejar Ben yang asik merekam dibandingkan menjaga kami di spot Jetty Sauwandarek. Sebuah spot di desa Sauwandarek satu pulau dengan Yenbuba namu ini tereletak di balik Mansuar, desa yang menghadap Batanta atau Selatan. Dive spot ini tak seramai dive spot Jetty Yenbuba. Padahal Keindahan dan keanekaragaman biota lautnya sangat mempesona. Ear coral dengan diameter mencapai 10 meter diatasnya berdiam diri gerombolan switchlips sungguh membuat sakauw, belum lagi lihat emaknya Wobbegong yang lagi boci (bobo ciang) di cerukan karang sepanjang 2 meteran. Hamparan soft coral aneka warna membentang belesan meter hingga ke tengah laut,,belum lagi si ganteng-ganteng berdarah dingin yaitu hiu yang hilir mudik mencari mangsanya. Dive spot Sauwandarek pantas dinobatkan menjadi The Most Beautiful UW Raja Ampat 2018.
            Oya berapa sich kocek yang harus dikeluarin jika ingin berpetualang dan mengeksplore taman laut Raja Ampat bersama WDC & KRF Bungalows? Cukup mengelurakan kocek 450 IDR/dive jika memiliki alat dive lengkap, 550 IDR/dive yang tidak memiliki alat. Penginapan sendiri 500 IDR/malam/orang. Tapi tetap “Manage Expectasion”, yang namnya trip back packer, siapkan hati untuk selalu legowo, menerima semua service baik dari dive, tempat tinggal maupun makanan yang selalu ada kejutan. Untuk resparasi bisa kontak langsung, sang Owner di krfwda@gmail.com dan handphone 085244872785. Tips backpaker dive trip di Rajaampat bawahlah cemilan sebanyak mungkin dan makanan kaleng, jka perlu bahwa sambal bagi penggemar pedas, karena menu di Kri irit akan cabe-cabean,,,salah dink irit akan rasa pedas. Dan terpenting bawa juga spare part alat dive, terlebih yang suka moto jangan lupa bawa peralatan maintenance cemara dan pendukungnya, karena sungguh mati gaya dan nangis bombay dikala peralatan tempur kita tiba-tiba shutdown tanpa permisi terlebih dahulu.

Markasnya WDC di Kri Island photo by Ruben
Wobbegong UW Suanwandarek Jetty photo by Ruben
           
Manta Point Raja ampat

Hanya sempat memotret ekor Wobbegong seblum camera berembun

UW Sauwandarek Jetty

Gara-gara memegang ujung ini nich, aku mendapat kuliah gratis dari pale german


Rabu, 19 Desember 2018

TERDAMPAR DI BELANTARA BATANTA RAJA AMPAT


Welcome Raja Ampat at Pelabuhan Rakyat Sorong

      Ini trip dadakan, trip yang tidak direncanakan, trip mecampkan semua rutinitas kuliah dan kerja yang mulai memuakan dan terpenting trip teramat rindu dengan Raja Ampat yang tak pernah bosen untuk di eksplore. Kenapa aku begitu antusias bahkan sampai supernekat bolos kuliah padahal sepulang dari Trip ini langsung berhadapan dengan Ujian Tengah Semester ? heheheh ini akbiat racunnya kak Hervil, cowok manis Papua kelahiran Batanta, yang sukses menebarkan racunnya ke otak ku. Tak hanya itu aku tipe orang yang antusias untuk sesuatu yang baru. (Sepert yang pernah aku bahas pada artikel : RAJA AMPAT ISTANA  JUTAAN IKAN NAN UNYU-UNYU  ).
                Untuk menjangkau pulau ini seperti jalur ke Waisai pada umumnya bila kita Backpaker, namun bila kita tamunya papua pradise eco resort cukup sampai Sorong saja, dari sini resort akan mengurus segalanya sampai tiba di sisi lain surga Raja Ampat. Namun berhubung backpaker, sesuai budget, kalau tidak berakit-rakit kehulu maka bukan petualang sejati namnya. Dari Sorong menggunaka kapal cepat jika membeli tiket super ekonomi yang duduknya dianjungan kapal cukup mengeluarkan kocek 100 IDR, sampai dech di ibukotanya Raja Ampat destinasi terfavorit dunia. Bermula di pelabuhan Waisai inilah perjuangan dimulai, mengingat jarat antara dermaga kapal cepat dengan dermaga antar jemput jukung/speedboat homestay atau resot lumayan menguras keringat terlebih berjalan terseok-seok di tanah liat berdebu membawa ransel 10 kg serta koper dengan peralatan diving seberat 20 kg,  bonusnya bermandikan cahaya matahari tanpa diskon. Semua perjuangan itu tak berarti, tertutupi hati yang yang riang gembira karena sampa dengan selamat di bumi Cindrawasih titisan surga yang jatuh ke bumi.
Welcome Batanta

                Pulau Batanta walau di kawasan Raja ampat yang cetar membahana, masih sepi dari para wisman terlebih turis lokal. Ntah karena letak nya yang jauh dari Waisai, transportasi publik yang tidak tersedia atau informasi tentang pariwisata Batanta yang minim. Aku menduga faktor terakhir inilah yang membuat Batanta tak semeriah Gam, Kri, Mansuar, Arborek, Wayag ataupun Misool. Memang Batanta tak serupawan Wayag, tak secermerlang Misool, namun untuk keindahan pantai, keramahan penduduk desa Arefi, hutan, pantai yang masih perawan, plus nya lagi di pulau ini terdapat air terjun Warin Kabom  yang keindahanya bikin aku nekat untuk mengeksplore Batanta walau harus Solo Trip kembali. Minimnya informasi tentanng Batanta membuat pulau ini sepi akan wisatawan, walaupun terdapat beberapa home stay dengan kualitas yang lebih baik dari Kri.
                Bulan Maret termasuk bulan yang terbaik untuk mengarungi laut biru yang terbebas dari terjangan ombak dan angin yang tak bersahabat. Sedikit jengkel mewarnai awal perjalanan ku ke Batanta ,hati yang tadi nya cerah ceria seperti langit birunya Raja ampat tercemar oleh kejengkelan menanti jukung (kapal kecil bermesin 90pk) menjemput tak kunjung tiba, sudah belasan kali di call jawabnya SABAR BU!!! Uhuksss beginilah nasib merantau ke Timur, harus siap jungkir balik akan semua planing yang sudah matang di otak.. Silih berganti cowok-cewek bule muai yang muda, tua, remaja, ganteng, cantik, dekil sampai perlente sudah belasan kali diangkut oleh jukung-jukung sampai speedboat mewah meninggalkan dermaga Waisai, tinggal lah aku menatap nanar,,laut biru menanti janji yang tak pernah ditepati. 1 jam berlalu akhirnya pak Novri pemilik homestay Yenkarom di Batanta yang satu-satunya siap dan memiliki alat diving lengkap kecuali kompresor untuk isi tabung dive.  Sederhana saja jawab beliau saat bersua, “Ibu Arista?, maaf Bu sedikit terlambat tadi belanja dulu kepasar.”,...Gubrak,,tidak tahukah doi, kalau aku sudah lumutan menunggu di dermaga yang baru akan di bangun ini? Tidak tahukah doi, kalau cacing-cacing diperut mulai meneriakan genderang perang pertanda laper.com. Aku hanya bisa senyum kecut untuk membalas alasan yang sama disetiap trip ke Raja Ampat. Kapal yang menjemputku kecil mungil dan ramping, tanpa penutup,,,hmmmmmm artinya 1 jam  30 menit aku akan terpanggang Matahari,,,beruntung aku memakai topi lebar dengan buff (badana) yang siap untuk menutupi muka, untuk sementara wajah ku aman dari menghitam legam.
Pekarangan Homestay Arefi Batanta

                Perjalanan menuju Batanta bak berjalan di jalan tol bebas hambatan, tak ada ombak atau angin yang menghalangi perjalanan.. Tepat pukul 2 siang aku tiba di pulua impian,,,ya Batanta...jauh dari gemerlapnya Raja Ampat. Sebuah pulau yang masih sunyi, homestay sepanjang garis pantai hanya ada 4 yang letaknya berjauhan persis seperti pulua Kri 5 tahun silam.  Suprisenya,  semua homesaty kosong melompong alias tak satupun ada tamu. Nun jauh di tanjung berdiri megah papua pardise eco resort. Antara  Senang, heran juga sedih akan nasib ku ku kedepan. Tak sabar hati aku segera terjun dari jukung, menikmati dingin air laut, udara pantai berbaur hutan tropis memenuhi rongga paru-paru ku. Seketika otak ku dibanjiri nyanyian merdu kicau burung, semilir angin yang bermanja-manja dengan dedaunan, deburan ombak yang berselisih kepantai, air laut sebening 
cristal,,,argggh Raja Ampat selalu menghipnotis. Aku sampai lupa,lupa akan kejutan yang menanti ku, ketenangan yang mencekam.
                Seingat ku 2 jam berlalu bersama Pak Novri  dan kapten kapal yang menjemputku di Waisai sampai Batanta, tak sedikitpun mereka bicara kecuali salam sapa pertam saja, selepas itu semua dengan tindakan, pun sampai di homestay yang sudah rapih, bersih dan siap untuk  merebahkan diri.  Pak Novri hanya mengantar ku sampai home stay, tanpa bicara seoata katapun, baik dengan siapa nanti aku tinggal, makan jam berapa, rencana trip kemana bahkan hal yang terpenting biaya selama di Batanta,,,tak sedikitpun kata terucap dari mulutnya. Beliau hanya meletakan bak barang di meja lalu berlalu, tinggalkan ku di pulau yang masih rapat menghijau. Hanya ada dua 3 bangunan di pantai aku terdampar ini, 2 bangunan berupa kamar tamu yang berjarak 2 meteran, dan satu nya dapur yang berjarak belasan meteran. Satu-satunya tamu hanya aku di pulau sebesar ini, adapun tamu resort nun jauh di tanjung.Yang membuat  lega setidaknya aku ditemani Pak Novri,istrinya dan bapak tua jadi totalnya penghuni pulau ini kami berempat.  1 jam menanti makan siang pun siap dihidangkan dengan menu ayam kecap berlumuran minyak, sayur lodeh dengan dominasi kol dan soun tumis, khas masakan pulau Raja ampat...jauh lebih baik jika dibanding dengan menu makanan yang disajikan di homestay-homestay yang ada di pulau Kri. Aku tak mengerti apa karena tipikal masyarakat Batanta yang super pemalu? atau mereka tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing? atau juga  jarang ada tamu berkunjung? Atau mereka belum siap, belum dapat pelatihan dalam menjamu tamu????...Sunguh ini lebih parah dari pertama kali aku jumpa Ruben dan keluarganya saat 5 tahun silam pertama kali ke Raja ampat, dimana tamu-tamu tak seramai sekarang.

                Bahkan istrinya Pak Novripun irit kata-kata, semua percakapan aku yang memulai, aku berusaha keras untuk SKSD, namun mereka bagaikan tembok cina yang tak tergoyahkan. Tinggallah aku cilingak-cilinguk di pulau nan sunyi ini. Maksud hati ingin rebahan sembari mengumpulkan tenaga untuk snorkling nanti sore, namun apa daya mata ku tak dapat terpejam, ntah karena semua berasa dingin, kakuh. Aku putuskan untuk membereskan barang-barang ku, lanjut snorkling. Keputusan yang salah sepertinya, bagaimana mungkin snorkling? Aku lihat Pak Novri beserta anak istrinya pergi dengan boat ntah kemana, tinggallah aku bersama bapak tua yang tertidur dibale-bale kayu usang. Batanta adalah pulau yang menghadap laut lepas otomatis ombak pun selalu bergelora terlebih air laut mulai pasang, tak kebayang arus kencang menghanyut kan tubuh ku,,,tak berani aku berenag ketengah, cukup di bibir pantai, sudah membuat ku ciut...ciut akan kebawa arus ketengah laut, takut akan mati konyol, aku bukanlah bule-bule yang nekat dan jago-jago berenang. Tak sampai 15 menit akupun menepi di pasir putih. Tak banyak yang bisa ku intip dalam lautnya Batanta, hanya lamun-lamun laut dan butiran-butiran pasir yang mengeruhkan air laut yang bisa aku lihat, tak juga ku lihat  ikan-ikan yang bersiliweran riang. Ntah karena air mulai pasang ditambah ombak yang bergelora, membuat taman laut sukar untuk dinikmati.
                Disela-sela kekecewaan ku, aku berkesempatan bicara sedikit banyak dengan bapak tua yang terjaga dengan langkah kaki ku dipepasir.  Sebetulnya walau Bapak tua banyak bicara tak banyak juga yang bisa aku tangkap dari tutur bahasanya, aku hanya bisa mencerna bahwa Pak Novri beserta keluarganya balik ke kampung Arefi karena nanti malam akan ada syukuran adiknya yang baru dilantik menjadi Polisi, Pak Tua pun akan menyusul nanti setelah menyalakan lampu untuk ku. Lha????? Terus nasib ku ???? Hanya kalimat ini yang bisa ku cerna dengan benar dan baik. Alamak , aku panik, marah, sedih melanda sekujur tubuhku, dari pertama jumpa aku berusaha memahami kondisi terburuk ini, mencoba menikmati perjalanan nekad ku, sikap tak bersahabar sang pemilik homestay. Aku tak tahu mau curhat, mau mengeluh pada siapa, ini pulau tanpa sinyal, listrik baru hidup jam 18.00 smp jam 21.00.  Aku tak tahu mesti bilang apa, bak ilang arah rasanya. Dikejauhan menderu mesin 45 pk mendekati pulau, aku mulai leganya ada juga yang datang, Pak tua bilang itu isti pak Novri dan adiknya. Bagai meminum air pegunungan rasanya,,,,lega seketika. Tak menunggu lama, saat mereka mendarat di pasir putih aku langsung memberndong pertanyaan, Kenapa, kenapa, dan kenapa? Kapan dan kapa?..blalalbla...dan mereka hanya menjawab “Tidak Tahu Ibu”...huaaaaaaaa .aku hanya bisa membelalak nanar. Si mama papua pun akhirnya menawarkan aku untuk ikut ke kampung, aku sambut dengan antusias tawaran ini, walau badan basah kuyub selepas snorkling, kami ber4 akhirnya menuju kampung dikala matahari mulai kembali ke jantung samudra.
                Kampung Arefi, layaknya kampung-kampung pinggir pantai di Raja Ampat, bersih, tatanan rumah yang rapi di kiri kanan jalan lurus berpasir putih, Setiap rumah halamanya dipagari kayu angsana yang dicat putih, berhiaskan bunga bougenvile aneka warna. Namun sayang pasir putih yang membela kampung dicemari bercak orange kemerahan alias ludah pinang. Sebuah kampung yang damai dan hangat akan jiwa kekeluargaan yang tinggi, terlihat jelas pada saat syukuran, masyrakat berkumpul saling membantu, ibu-ibu sibuk di dapur, para kaum hawa sibuk mebuat tenda, mengatur kursi, menghias panggung dan membenah soundsystem. Ini pesta intinya dari warga untuk warga. Aku lihat semua warga baik tua maupun muda bergembira ria menyambut malam dansa nanti malam. Mungkin satu-satunya orang yang tak bahagia adalah aku.. Terlebih saat ku tanya Pak Novri kapan aku mulai diving? Kapan aku mulai menjelajah Batanta? Dia bilang belum tahu, karena tabung-tabung belum diisi, sementara dia sibuk menyiapkan pesta untuk adiknya. Fiuhhhhhh, walau ini trip dadakam, namun aku memberi tahu akan datang dan menginap di Batanta sudah 1 bulan silam, 2 minggu sebelum berangkat sudah aku DP 1 juta buat homestay dan diving. Seenak e dewe, doi bilang..BELUM TAHU!!!!.. paling cepat bisa diving hari besok lusanya!!! .Receh macam apa ini????!!!! Lagi dan lagi aku bisa nelangsa. Terlebih mereka bilang akan sampai jam 2 pagi di kampung, aku disuruh milih ikut pesta atau kembali ke pulau? Busyetttttt, ntah aku tamu lokal jadi aku bak kutil yang merepotkan mereka. Walhasil aku pilih opsi kedua kembali ke homestay, langit mulai gelap saat aku kembali dengan hommestay dengan baju yang kunjung kering, sebasah hati yang tak bisa menangis. Satu-satunya yang membuat aku legah di Kamp Arefi terdapat sinyal Telkomsel,, sehingga aku bisa berbagi derita dengan Ruben untuk segera pindah ke Koronu Fyaks Home stay keseokan harinya, dengan janji diantar Pak Novri jam 9 pagi.
                Tak berbasah-basih aku segera membersihkan diri di bilik bambu, selepas sholat aku lihat di beranda depan sudah tersedia makan malam dengan menuh yang masih sama dengan yang tadi siang bedanya sekarang ayamnya di goreng.  Tanpa nafsu aku menyuap makanan ke mulut, hambar sehambar hati ku...uhuksss liburan yang ancur lebur...kulihat di kejauhuan di sea-sela dedaunan dan ranting pondok dapur masih benderang. Lega...masih ada teman setidaknya dipulau yang mulai diselimuti malam. Aku masih ingat si mama papua janji akan menjemput ku kembali ke kampung, namun sampai mata terlelap sampai lampu mati tak satupun manusia menyampiri ku, malam ini, ku tak tahu apa karena aku betul-betul capek fisik plus hati? Pingsan betulan? Atau Allah begitu sayang dengan ku?. Sepertinya opsi 3 lebih masuk akal. Dikarenakan Allah tahu kalau aku itu penakut. Malam ini aku benar-benar sendiri di pulau tanpa ada yang menemani tidak bapak tua, pak Novri maupun istrinya...aku terlelap pulas di belantara Batanta sampai senyum hangat mentari mebelai kulit ku baru terjaga.
                Pagi pertama di Batanta, sejenak begitu nikmat, begitu segar dengan aroma hutan bebaur laut, kicau riang burung maenyambut pagi yang ceria,namun setelah aku sadari dan beranjak dari kasur dan langkah pertamaku menuju pondok dapur dan tak satupun manusia yang kujumpai,,sedih dan juga syukur setidaknya aku masih selamat wlau semalam aku terlelap bak orang pingsan dipulau yang baru aku jumpai. Lagi dan lagi aku harus menanti janji pak Novri yang katanya akan mengantar aku ke Kri, sampai anak istri dan bapak tua datang menyiapkan sarapan pagi, beliau masih belum tanpa batang idungnya, ntah mabuk ntah mencari bbm untuk jukungnya. Waktu hampir pukul 11 siang tak juga muncul. Uhuksss rasanya mau meledak diri ini, tapi bukan tipe ku untuk meluapkan emosi,,sabar, gelisah, cemburu menatap ombak yang bekejaran ditengah lautan. Dikejauhan terlihat Jukung berlari kencang dari arah Kri menuju Batanta dengan 4 orang Bule, dan berhenti tepat di homestay tepat dimana aku menani oak Novri. Ternyata grup ini backpaker German yang berpindah-pindah dari satu pulau kepulau lainnya, mereka sudah mengeksplore Waisai, gam, Kri, Mansuar, Salpele, Arborek dan sekarang Batanta. Kapal yang menghantar merupakan penduduk lokal pulau Gam, dengan sang kapten Jukung bernama Kreskes. Berasa mendapat durian runtuh rasanya, akupun dengan semangat 45 menawarkan diri untuk diantar ke KRI, Kembali ke pelukan Ruben Koronu Fyaks Homestay, Wabegong Dive Center,,tempat pertama kali aku jatu cinta pada semesta Raja Ampat dan segala isinya, walau ku tahu aku akan menangis kembali untuk cinta yang tak pernah abadi.
                               


bersama kapten Krekes yang membawa ku ke Kri










PESONA TAMAN LAUT TANJUNG WAKA SANANA MALUKU UTARA

Tuturuga yang terluka                       Keistimewaan Tanjung Waka Sanana adalah belum ramai dikunjung turis lokal maupun manca...